19 Agustus 2013

(Cerbung Religi) "Ustad Keren-keren" / Part 19

Judul : Ustad Keren-keren

Author : Andin (@ariek_andini) / Admin4

Genre : Romantic - Religius

Pemain :
- Rangga Moela
- Eriska Rein
- Reza Anugrah
- Pramudina
- Bisma Karisma
- Ilham Fauzi
- Dicky Prasetyo





         “Tidak jadi operasi?!”

         “Kamu dengar ‘kan penjelasan dokter tadi? Kemungkinan hidup Rangga hanya 50:50. Dan kalaupun berhasil, banyak resiko yang harus dia tanggung. Lagipula, dari mana Abah punya uang sebanyak itu untuk membayar operasi? Biayanya puluhan juta, Nak~...”

         “Jual saja perhiasan Fatimah. Tanah yang Abah belikan untuk pernikahan Fatimah kemarin juga dijual. Jika ditambah dengan tabungan Fatimah di ATM dan meminjam sedikit dari tetangga, uangnya pasti cukup.”

############

Pendarahan terjadi di otak kiri. Dan ia tahu sejak awal, Rangga akan beresiko kehilangan memori otak jangka pendek. Dan itu berarti, ingatannya beberapa tahun terakhir akan terhapus.

         Eriska~.... Iya! Gadis itu yang beberapa tahun belakangan ini memenuhi otak Rangga. Jika memori itu dihilangkan, semuanya akan beres! Ia bisa memiliki Rangga seutuhnya tanpa bayang-bayang Eriska.

###########

         “Saya ingin tahu kabar Kiai sekeluarga. Sudah dua bulan tidak bertemu...” kata Ilham

         “Kiai sekeluarga, atau Fatimah?”

          “S-saya.... saya ingin membicarakan masalah pernikahan kami, Kiai.”

         “Kiai tahu. Karena itulah Kiai berani memasrahkan Fatimah kepada kamu. Hidup wanita pasti akan bahagia di tangan lelaki yang mencintainya. Sebisa kamu bicara pada Fatimah. Fatimah memang gadis penurut, tapi adakalanya dia keras kepala.”

         Pintu ditutup. Ruang kamar kembali sunyi. Semakin lama suara langkah kaki Kiai Mahmud dan Ilham menghilang. Beberapa detik setelahnya, Rangga membuka mata. Ia mendesah.

         Rujuk?

         Benar dugaannya, tidak akan semudah itu selesai. Pasti akan ada ekor masalah dari perceraian Neng Fatimah. Ilham, suaminya, mengharap rujuk selama masa idah Neng Fatimah belum berakhir. Lalu bisa apa dia?




         Fatimah? Ck, sudahlah~....


         ###############

         Terpaku. Dina hanya bisa diam mematung sementara Eriska menangis sesenggukan di ranjangnya. Tepat setelah jamaah isya usai, Eriska berlari ke kamarnya lalu menangis tanpa henti.

         “Sudahlah, Eris. Ustad Rangga pasti tidak apa-apa. Sudah~... jangan menangis lagi.”

         Isakan Eriska tidak berhenti. Entah sekhawatir apa dia. Dina hanya bisa menahan nafas dan menyerah tanpa mampu menghentikan tangis Eriska.

         “Aku akan ke kantin mengambil minum.” Ucap Dina. Ia bergegas keluar mendengar isakan Eriska yang semakin lama berubah menjadi batuk.

         Suasana mushalah sepi. Hanya nampak Ustad Reza duduk bersila di sana. Biasanya, Ustad Rangga dan Ustad Bisma ada juga di sana. Bergurau. Dan terkadang membahas kitab bersama santri senior.

         Dina melengos pergi. Ia tahu, suasana pesantren berubah semenjak peristiwa kecelakaan yang menimpa Ustad Rangga. Setiap ekspresi seperti diselimuti kekhawatiran. Apalagi Eriska.

         Juga Ustad Bisma.

         “Malam-malam begini mau kemana, Dina?” tegur seseorang dari belakang.

         Dina menoleh. Tangannya menggenggam erat sebotol minuman.

         “Eh, Da-dari mengambil air minum, Ustad.” jawab Dina bergetar. Jantungnya berdesir cepat. Di tengah temaram lampu di malam hari, ia memberanikan diri menatap wajah Bisma.

         “Tumben tidak bersama Eriska?” tanya Bisma.

         “Eriska~... Eriska menangis, Ustad.”

         Bisma menelan ludah. Sudah dia duga!

         “Sebenarnya Ustad Rangga kenapa, Ustad? Kenapa tadi tiba-tiba pingsan?”

         “Sementara ini, Ustad Rangga harus dirawat di rumah sakit. Kamu bilang saja pada Eriska, Ustad Rangga baik-baik saja.” Bisma menarik nafas pendek. Dia nampak berpikir, “Ustad Rangga akan operasi besok.”

         Dina membulatkan matanya, “Operasi?!”

         “Gara-gara kecelakaan sebulan lalu, Ustad Rangga mengalami masalah dengan otaknya. Dia harus dioperasi.”

         Dina merengkuh botol minuman yang ada di tangannya semakin kuat. Seperti sulit mencerna penjelasan dari Bisma. Operasi? Separah itu ‘kah?

         Bisma mengalihkan pandangannya ke rumah Kiai Mahmud yang berdiri tak jauh dari mushalah. Sudah selarut ini, namun lampu rumah tak juga mati. Sepertinya Neng Fatimah sedang kebingungan di dalam sana mencari surat-surat berharga.

         “Tapi, entahlah. Ustad Rangga jadi dioperasi apa tidak besok. Kiai Mahmud dan Neng Fatimah kebingungan mencari uang. Biayanya sampai puluhan juta.” Tambah Bisma. Matany masih khusyuk memandangi rumah Kiai Mahmud.

         “Ka-kalau Ustad Rangga tidak dioperasi......”

         “Tidak tahu.” sahut Bisma memotong kalimat Dina, “Tidak ada yang tahu. Allah benar-benar sedang menguji sekarang.”

         Bisma menghentikan kalimatnya. Tenggorokannya tercekat. Matanya yang nanar menatap sekeliling sukses membuatnya membeku. Dilihatnya sosok berkerudung ungu tengah berdiri lima meter di depannya. Menatapnya kosong. Penuh dengan air mata.

         “Eriska??!” pekik Bisma. Baru ia menyadari keberadaan Eriska di belakang sana. Sontak Dina turut menolehkan wajahnya.

         Eriska mengusap pipinya dengan lengan bajunya. Ia melangkah mendekat dengan langkah tegas.

         “Eris?! Kok kamu di sini?” tanya Dina.


         “Ustad, saya mohon izin meminjam handphone Ustad.” kata Eriska. Sedikitpun tidak menghiraukan teguran Dina.

         “U-untuk apa?”

         “Saya akan menghubungi Papa saya.”

         “Eris~...”

         “Kecelakaan itu terjadi gara-gara saya! Ustad Rangga berada di gubuk itu gara-gara saya! Ini semua salah saya! Saya akan menghubungi Papa dan membiayai semua pengobatan Ustad Rangga. Saya mohon, Ustad. Pinjami saya handphone.”

         Bisma diam menatap Eriska. Dilema. Seperti tidak ingin menyeret Eriska dalam masalah ini. Namun air mata Eriska terus mengalir.

         “Eriska, kita ke kamar saja....” ajak Dina.

         “Tidak! Ustad Bisma, saya mohon!” sahut Eriska bersihkukuh. Ia berdiri tegap di hadapan Bisma.

         Tidak ada jalan lain. Seluruh santri dilarang membawa handphone selama belajar di pesantren. Hanya ini satu-satunya cara agar ia bisa menghubungi Papanya di kota. Hanya Ustad Bisma yang dia harapkan.

         Bisma menghela nafas berat. Dilihatnya beberapa santri putra mulai berdatangan. Mengerumuni Eriska yang tak juga berhenti menangis.

         “Ini....” ucap Bisma sambil menyodorkan handphonenya.

         Eriska mengangkat dagunya. Tanpa pikir panjang ia meraih handphone dari tangan Bisma lalu berlari menuju kamarnya. Otaknya mengacu pada laci di meja belajarnya. Di buku catatan kecilnya! Di sanalah nomor handphone dan nomor rumahnya tersimpan.

         “Sudah malam! Waktunya tidur! Ayo semua masuk!” perintah Reza dari mushalah. Ia menggiring santri yang berkerumun menuju kamar masing-masing.

         Dimatikannya lampu teras asrama, lalu menghampiri Bisma yang masih berdiri tegap di tengah halaman mushalah. Hening. Bisma menatap tanah dengan nafas memburu. Membuat Reza hanya bisa terdiam.

         “Kamu sudah dengar semuanya kan?” kata Bisma.

         Reza mengalihkan matanya pada langit gelap.

         “Kita bertiga dekat seperti saudara. Tapi mudah banget Rangga menyembunyikan sakitnya dari kita.”

         “Bisma~....”

         “Aku satu-satunya yang tahu penyakit Rangga. Tapi goblok banget! Aku malah ikut-ikutan main rahasia-rahasiaan sama dia! Mestinya aku ngga nurutin Rangga! Aku ngga nyangka akhirnya akan seburuk ini!”

         Reza menepuk bahu Bisma pelan. Tidak mampu menghibur, tapi setidaknya ia ingin berada di samping Bisma.

         “Tidak ada yang tahu kapan datangnya musibah selain Yang di Atas! Sudahlah~.....” ujar Reza.

         Bisma menekan pelipisnya. Berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.

         “Aku akan membongkar tabunganku untuk menambah biaya operasi Rangga. kamu punya tabungan juga kan?” kata Reza.

         “Sepertinya udah ngga dibutuhin, Ja. Eriska minta bantuan sama orang tuanya.”

         “Aku dengar. Tapi mustahil ‘kan....”

         Bisma mengerutkan alisnya. Ia ganti menatap Reza.

         “Bis, jangan bilang kamu beneran minjemin handphonemu ke Eriska!”

         “A-aku....” Bisma tidak meneruskan kalimatnya. Ia baru saja menyerahkan handphonenya ke Eriska, lalu kenapa respon Reza sekaget itu?

         “Kamu beneran minjemin handphone ke Eriska?! Yang ada di pikiran kamu apa sih, Bis?!” bentak Reza.

         “Eriska nangis-nangis di depan aku, Ja! Aku ngga tega!”

         “Itu bukan alasan! Kamu malah membawa-bawa santri ke dalam masalah seperti ini! Bagaimana kalau Eriska beneran meminta uang pada Ayahnya? Rangga cuma berpura-pura menyukai Eriska selama ini! Dan kamu malah ikut-ikutan Rangga membodohi Eriska!??”

         Bisma membulatkan matanya, “Dari mana kamu tahu kalau Rangga berpura-pura suka sama Eriska?!”

         “Ck!”

         Terguncang. Mendengar hal yang sama sekali mustahil. Dan hanya bisa bergemetar dari kejauhan.

         “Khh, Eriska?” gumam Reza kaget. Ia merendahkan suaranya. Dikiranya Eriska telah lama kembali ke asramanya. Namun Eriska telah berdiri tak jauh dari posisinya.

         Eriska berjalan mendekat ke arah Reza dan Bisma. Kedua tangannya menggenggam handphone Bisma. Sementara Dina berjalan cepat mengikutinya dari belakang.

         “Eris, tadi~....”

         “Saya kembali untuk mengembalikan handphone Ustad Bisma.” Ucap Eriska dengan suara bergetar. Tangan mungilnya menyerahkan sebuah handphone ke hadapan Bisma.

         “Eris, apa yang kamu dengar tadi hanya~....” kata Reza berusaha menjelaskan.

         “Saya kembali ke asrama, Ustad. Assalamu’alaikum...” pamit Eriska memotong kalimat Reza.

         Eriska membalikkan badan. Ia berjalan tegap meski Ustad Reza dan Ustad Bisma memanggil-manggil namanya. Sudah cukup mendengar Rangga sekarat dan harus dioperasi. Sekarang hatinya kembali dipaksa menerima kenyataan menyakitkan. Kenyataan yang selama ini ia elu-elukan sebagai kenangan terindah.

         Berpura-pura suka?

         Maksudnya, berbohong? Rangga? Selama ini?

         Semua hal manis yang Rangga lakukan padanya adalah pura-pura? Kenapa bisa sesempurna itu?

         “Eriska~....” panggil Dina. Diraihnya lengan Eriska.

         “Lepaskan, Din! Aku pengen sendiri!” tukas Eriska. Ia menghempaskan tangan Dina lalu berlari kencang menuju asrama putri. Meninggalkan Reza dan Bisma yang kehabisan kata-kata.

         “Kenapa kamu nggak bilang kalau ada Eriska tadi?” sergah Reza panik.

         Bisma menekuk lutut. Ia mendesah, “Masalahnya semakin runyam, ck!”

         #############

         Pagi menjelang. Matahari merangkak naik ke angkasa perlahan. Berkas sinarnya menyelinap ke kamar tempat Rangga dirawat. Sunyi. Derap langkah kaki dari lorong rumah sakit bersahut-sahutan. Rangga terduduk tegap di atas ranjangnya. Tangannya menggenggam selang oksigen yang sejatinya melintang di hidungnya.

         Seperti lucu. Rangga tersenyum geli. Baru sebulan pergi, kini ia kembali ke ruangan dimana hanya bau obat-obatan yang dapat ia cium. Rumah sakit seperti menjelma menjadi rumah kedua baginya. Selemah itukah tubuhnya?

         “Anda sudah bangun?” tegur seorang dokter dari balik pintu. Ia masuk diiringi seorang perawat.

         Dengan sigap dokter itu mengeluarkan stetoskop dari sakunya. Sementara perawat muda di belakangnya membelok ke sofa dan bersiap membangunkan Kiai Mahmud yang tertidur pulas.

         “Jangan dibangunkan!” perintah Rangga pada perawat itu.

         Perawat berseragam putih itu menghentikan tangannya. Ia menoleh ke arah Rangga.

         Rangga menatap Kiai Mahmud dalam. Ia tahu semalaman Kiai Mahmud tidak tidur. Mengaji Al Qur’an, shalat, lalu mengaji lagi. Semalam suntuk Kiai Mahmud tidak lepas dari sejadahnya. Ia bisa merasakan aura kekhawatiran dari wajah keriput Kiai Mahmud.

         “Ke-kenapa selang oksigennya dilepas?” tegur dokter di depan Rangga.

         “Saya tidak apa-apa. Saya bisa bernafas meski tanpa selang oksigen.”

         Dokter paruh baya itu mengangguk, “Hari ini Anda harus menjalani serentetan tes. Kami harus mengetahui kemampuan tubuh Anda sebelum operasi. Lusa, hari Jumat, operasi akan dilakukan pukul 08.00.”

         Rangga membiarkan perawat di sampingnya memasang kabel medis di lengannya. Tabung infus diganti. Tak lama setelah itu perawat dan dokter itu pergi meninggalkan ruangan.

         Rangga berdecak.

         ##################

         Sementara itu, di halaman parkir rumah sakit, nampak Neng Fatimah keluar dari mobil dengan langkah terburu-buru. Ia berjalan cepat mendahului Bisma yang baru turun dari kursi kemudi. Keduanya lalu menuju ruangan tempat Rangga berada.

         Sambil melangkahkan kaki, Neng Fatimah mengacak-acak isi tasnya. Berusaha mengumpulkan lembaran amplop cokelat tempat surat-surat berharga miliknya berada.

         Begitu sampai di depan pintu, Bisma membukakan pintu ruangan. Dilihatnya Kiai Mahmud tengah terbaring di sofa. Bisma dan Neng Fatimah mengalihkan mata ke ranjang. Dan sontak keduanya membelalakkan mata.

         “Ranggaaaa!!?” panggil Bisma. Dilihatnya ranjang tempat Rangga terbaring kosong. Selang infus dan selang oksigen menjulur begitu saja di atas bantal.

         “Abah! Abah!” panggil Fatimah mengguncang-guncangkan bahu Abahnya.

         Kiai Mahmud membuka matanya, “Ada apa?”

         “Rangga mana, Abah?!!” tanya Fatimah panik.

         “Hah?!”

         “Rangga mana, Abah? Rangga hilang! Rangga kemana?!”

--------------------------------------

Bersambung ke Part 20

1 komentar: